www.calesmart.com
www.calesmart.com
www.calesmart.com
www.calesmart.com
www.calesmart.com
November 10th, 2016 by Sri Lestari

Di artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai tri dharma perguruan tinggi yang harus dipenuhi oleh seorang dosen atau klik disini. Termasuk di dalamnya kan publikasi ilmiah. Yang kita publikasikan adalah tulisan ilmiah. Denger kata ilmiahnya, udah pasti dong tulisan ini bukan cerpen, novel, atau cerita fiksi. Ada kriterianya nggak? Mengarang bebas atau ada etikanya? Kalau nggak memenuhi etika, berarti pelanggaran donk!

Let’s see more detail!

Apa saja kriteria tulisan ilmiah?

Jika dipandang dari etika akademis, kita bisa menyusun kriteria tulisan ilmiah menjadi beberapa hal sebagai berikut:

  1. Tulisan ilmiah harus berdasarkan kondisi faktual. Makanya tadi saya bilang, tulisan ilmiah itu bukan fiksi.
  2. Up to date. Yang kita tulis itu merupakan perkembangan ilmu yang paling akhir alias paling update. Ibaratnya kita cerita kalau nggak up to date kan dibilangnya ketinggalan jaman kan ya? Apalagi tulisan ilmiah.
  3. Tulisan ilmiah yang kita buat akan berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal balik. Makanya di bagian afiliasi biasanya kita harus menuliskan alamat dan e-mail kita, khususnya sebagai corresponding author.
  4. Reserved. Tulisan ilmiah itu nggak boleh lebay, harus jujur, lugas, dan tidak ada motif pribadi yang mempengaruhi isi tulisan kita.
  5. Efektif dan efisien. Apa pun pasti inginnya efektif dan efisien. Bukan efektif atau efisien. Ya kan? Nah, tulisan kita akan menjadi sarana komunikasi yang berdaya tarik tinggi. Khususnya di lingkungan akademis dalam rumpun ilmu kita.

Apakah menulis ilmiah itu mengarang bebas atau ada etikanya?

Karena ilmiah, non fiksi, maka untuk menulis ilmiah kita perlu memperhatikan etika-etika yang berlaku. Kenapa harus ada etika? Tujuan adanya etika penulisan adalah untuk:

  1. Menjamin akurasi temuan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Coba kalau boleh mengarang bebas, bisa gawat. Teknologi yang dihasilkan bisa asal-asalan. Teori yang dihasilkan bisa jadi menyesatkan. So scary, kan ya?
  2. Melindungi hak kekayaan intelektual peneliti. Bayangin aja, kalau tulisan kita dipakai di tulisan orang lain tanpa nama kita disebutkan sebagai sumbernya. Gimana rasanya? Sakit hati kan? Makanya dengan etika, perampokan semacam itu tidak perlu terjadi.
  3. Melindungi obyek penelitian dari pemalsuan dan kerusakan.
  4. Menjaga reputasi ilmuwan. Kalau memenuhi etika, kan kita akan memiliki reputasi yang baik, bisa dipercaya.
  5. Menegakkan etika moral dalam berperilaku. Ini berlaku secara umum. Nggak hanya dalam penulisan ilmiah saja, etika moral juga kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Etika penulisan mengikat pada semua jenis dokumen karya ilmiah apa saja?

Ini dia. Nggak hanya untuk karya ilmiah yang dipublikasikan. Etika juga mengikat karya ilmiah yang belum dipublikasikan. Apa saja bentuknya?

  1. Karya ilmiah yang dipublikasikan: jurnal, buku, prosiding, paten, prototipe, desain industri, merek dagang, dll.
  2. Karya ilmiah yang belum dipublikasikan: skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, manuskrip, working paper, dll.

Mengingat bahwa etika juga mengikat pada karya ilmiah yang belum dipublikasikan, maka jika kita sebagai dosen pembimbing Praktek kerja lapangan atau skripsi, maka kita perlu mengajarkan etika penulisan ini pada mahasiswa kita. Agar mereka dapat menegakkan etika moral juga. Maka peran ini pun juga masuk dalam tri dharma perguruan tinggi bidang A yaitu pendidikan dan pengajaran.

Kalau tidak memenuhi etika, berarti pelanggaran donk!

Betul betul betul…

Ini dia beberapa bentuk pelanggaran etika publikasi karya ilmiah:

  1. Plagiarism and self-plagiarism. Pernah kan dengar ada dosen yang dikenai sanksi karena ketahuan plagiat.
  2. Research fraud yang meliputi fabrikasi dan falsifikasi data. Fabrikasi adalah mendaur ulang tulisan yang pernah dipublikasikan. Falsifikasi data adalah memanipulasi data sehingga data yang disajikan dalam tulisan tersebut adalah data yang keliru. Misal hasil analisis data menunjukkan bahwa hipotesisnya tidak terbukti atau tidak signifikan, kemudian dilakukan manipulasi data supaya hipotesisnya menjadi terbukti atau signifikan.

Ingat, penelitian itu dikatakan berhasil bukan berarti hipotesis harus signifikan loh ya. Hipotesis tidak signifikan pun perlu dipublikasikan, supaya peneliti selanjutnya dapat mempelajari shingga tidak mengulang metode yang sama.

  1. Memanfaatkan data atau informasi bukan dari sumber asal. Kalau ini sih jelas curang. Misal dia cari data di internet data saham PT X. kemudian dia ubah menjadi data saham PT Y, nah ini kan datanya bener-bener jadi nggak valid.
  2. Salami slicing yaitu penggunaan data secara berulang pada dua artikel. Wah ini tipis tipis alias agak samar pelanggarannya, bahkan mungkin kurang disadari. Pelanggaran ini terjadi jika ada data yang sudah muncul dalam publikasi sebelumnya, kemudian dengan data yang sama muncul lagi di publikasi berikutnya. Misal tadi data saham di PT.X pada tahun 2013-2014 sudah muncul di publikasi sebelumnya. Kemudian di tahun 2016 dengan variabel sama, dimunculkan lagi data nya hanya ditambahkan data saham di tahun 2015, jadi data tahun 2013-2014 tetap masuk. Secara sepintas ini kan beda, satunya 2 tahun, satunya 3 tahun, tapi kan variable nya sama. Nah ini tidak boleh, karena data yang 2013-2014 kan sama. Kecuali jika variabelnya berbeda, it doesn’t matter alias gpp.
  3. Pelanggaran hak kepenulisan (ghost, guest, and gift authorship), kepemilikan (ownership), dan ucapan terimakasih. Makanya penting nih membuat daftar pustaka yang baik dan benar.
  4. Publikasi ganda. Kayak gini nih curang. Jika naskah dimasukkan ke 2 jurnal dalam waktu bersamaan, sehingga keduanya terbit, maka salah satu harus dibatalkan. Kalau tidak, efeknya ditanggung oleh penulis dan jurnalnya. Jadi hati-hati ya. Yang sabar jika naskah kita masih under review, jangan langsung di submit ke jurnal yang lain.
  5. Konflik kepentingan. Misalkan hanya karena kejar deadline kemudian mengesampingkan etika-etika yang ada, asal copy paste.

Semoga kita termasuk dosen yang menjunjung tinggi etika moral dalam penulisan karya ilmiah. Kayaknya buat membahas plagiarism sendiri kita butuh artikel tersendiri nih… buanyak…. Daripada ini kepanjangan. Iya kan?

Insya Allah kita akan bahas tentang plagiarsm di next article ya…lihat tentang plagiarism

Artikel ini merupakan hasil pelatihan penulisan artikel ilmiah jurnal terakreditasi yang diselenggarakan oleh PPPM UNRIYO di Hotel Sakanti Malioboro, 3 November 2016, dengan pemateri D. Agus Harjito, Ph.D.

Referensi:

Anonim, (2010). Publication Manual of the American Psychological Association, Sixth Edition, WASHINGTON, dc.

Gastel, B. (2013). Writing and Publising Journal Article, Materi pada Authoraid Workshop, www.authoraid.info.

Permendiknas No.17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan     Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Rifai, M., A. (2004). Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; cet. 4.

Setiawan, N. (2011). Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah, Bahan TOT Penulisan Karya Ilmiah, Ditlitabmas, Dikti

Suryono, I.A.S. (2010). Plagiarisme dalam Penulisan Makalah Ilmiah, Naskah tidak diterbitkan.

Posted in Artikel, Publikasi Tagged with: , , , ,

November 9th, 2016 by Sri Lestari

Dalam dunia perguruan tinggi, tentu seorang dosen pasti selalu ditagih mengenai pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Ya memang itu adalah kewajiban dosen. Iya sih, nah inilah yang bikin dosen jadi banyak punya tagihan. Bukan tagihan hutang, tapi tagihan tri dharma. Ada tagihan proposal penelitian, lalu tagihan laporan penelitian, lalu tagihan proposal pengabdian masyarakat, tagihan laporan pengabdian masyarakat. Biasa? Ada tagihan lagi tentang publikasi hasil penelitiannya. Wuidiiiih… banyak amat tagihannya… Let’s see more detail…

Apa sih itu tri dharma perguruan tinggi?

Tri dharma perguruan tinggi meliputi 3 bidang, yaitu bidang pendidikan dan pengajaran, bidang penelitian, dan bidang pengabdian pada masyarakat. dapat dilihat pada gambar berikut ini: www.calesmart.com

Apakah ketiga bidang tersebut saling terkait?

Ternyata Tri dharma perguruan tinggi itu saling terkait satu sama lain. Bagi masyarakat umum, tugas seorang dosen itu adalah mengajar mahasiswa. Iya, benar. Tugas dosen dalam bidang A tridharma adalah pendidikan dan pengajaran. Namun, tidak hanya mengajar di kelas, melainkan ada juga kegiatan bimbingan praktikum, bimbingan praktik kerja lapangan, bimbingan skripsi. Mengenai bidang penelitian, seorang dosen wajib melakukan penelitian. Kegiatan penelitian pasti butuh dana. Dana untuk penulisan proposal, pengumpulan referensi, pengambilan data, analisis data, penyusunan laporan, pengurusan administrasi dan perijinan, dll. Dana nya tentu nggak sedikit. Tapi yang namanya wajib, ya pasti seorang dosen akan melakukan strategi bagaimana caranya untuk dapat melakukan kewajiban tersebut. Sama halnya dengan pengabdian masyarakat. Dana dan tetek bengeknya ga kecil.

Ada saling keterkaitan antar bidang tri dharma. Penelitian yang dilakukan dosen akan menghasilkan beberapa bentuk output, diantaranya adalah prototype, hasil karya seni, buku ajar, metode, dll. Nah, output tersebut kan bisa dipakai untuk melaksanakan bidang yang lain. Misalkan hasil penelitian berupa sebuah metode, maka metode tersebut dapat didigunakan untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pun hasil penelitian itu juga dapat ditambahkan dalam buku atau materi pelajaran.

Apa peran institusi dalam tri dharma perguruan tinggi?

Tugas utama perguruan tinggi atau institusi adalah mengupayakan, mensupport, bagaimana caranya untuk dapat mendorong, mengembangkan, dan memantapkan kebebasan ilmiah. Kog bebas? Iya, bebas. Kan masing-masing dosen memiliki kompetensi bidang masing-masing, fokus pun juga masing-masing, meskipun ada juga yang membentuk team work dalam penelitian atau pengabdian bersama. Kebebasan tersebut harus dikendalikan dengan pedoman moral. Pedoman moral itu lah yang dinamakan sebagai etika.

Apa itu etika akademis?

Dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi maka setiap individu dosen harus menjunjung tinggi kejujuran. Kejujuran dalam mencari dan menemukan kebenaran serta mengungkapkannya. Ini tentu erat sekali dengan kegiatan penelitian. Kita ingat tadi bahwa tri dharma itu adalah saling terkait. Kejujuran akan terwujud apabila ada kemandirian dalam kegiatan akademis. Tanpa kemandirian, maka akan banyak kepentingan yang dapat masuk dalam kegiatan tersebut.

Apa sih yang dimaksud dengan kejujuran dalam penelitian? Kan nggak bisa nyontek juga? Nah ini dia pertanyaan bagus. Dalam proses penelitian hingga publikasi kan kita menggunakan referensi dari mana-mana tuh, tentu yang relevan dengan topik kita. Dari referensi tersebut ada hasil pemikiran, teori, atau temuan dari orang lain. Etikanya adalah kalau kita menuliskan hasil pemikiran, temuan, dan teori orang lain maka kita harus menyebutkannya di daftar pustaka. Inilah yang dinamakan sikap yang jujur. Kalau tidak disebutkan alias asal comot sana comot sini, maka ibaratnya kayak merampok milik orang lain. Sehingga kita mendzolimi orang lain. Jangan sampai kayak gitu ya… ingat, kejujuran itu wajib bagi dosen khususnya dalam pelaksanaan tridharma.

Eits… kog tau-tau muncul etika ya… jelasin dulu apa itu etika ya. Etika adalah konsep yang mengarah pada perilaku yang baik dan pantas berdasarkan nilai-nilai norma agama, moralitas kemanusiaan, dan pranata keilmuan. Makanya kita sering denger kata etis dan nggak etis. Kira-kira kayak gitu lah. Jadi meskipun bebas, tapi tetap harus ber-etika.

Nah, hasil dari penelitian tadi kan perlu untuk disampaikan kepada masyarakat. Entah itu sesuai perkiraan awal (hipotesis) atau tidak, tetap perlu disampaikan. Penyampaian hasil penelitian ini adalah dalam bentuk publikasi dalam tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah kita bisa kita publikasikan melalui jurnal maupun prosiding. Saat ini ada banyak sekali jurnal yang dapat kita jadikan wadah publikasi karya tulis kita. Jurnal kita kategorikan menjadi jurnal nasional dan jurnal internasional, ada jurnal terakreditasi dan tidak terakreditasi. Jika kita mempublikasikan karya tulis kita dalam suatu seminar dan mempresentasikannya, maka bentuk publikasi yang kita dapatkan adalah prosiding. Bedanya dengan jurnal adalah, kalau jurnal kita tidak perlu mempresentasikan karya tulis kita, tapi kalau prosiding harus dipresentasikan.

Intermezzo sejenak, ntar kita analogikan deh. Seorang mahasiswa lebih takut untuk tidak lulus daripada senang untuk dapat eksis di jurnal ilmiah. Misal ada peraturan yang mereka terima di depan ketika mereka memulai status sebagai mahasiswa. Dalam panduan akademik sudah disebutkan syarat lulus adalah a, b, c, dst. Maka artinya kalau mau lulus, mahasiswa tersebut harus memenuhi syarat tersebut, semuanya tanpa kecuali. Kalau ada yang nggak terpenuhi maka dia akan nggak lulus. Logis kan? Maka mahasiswa akan mengupayakan segenap daya dan upaya nya untuk dapat memenuhi semua syarat tersebut. mereka akan melakukan strategi untuk itu. Nah, beda kasus lagi nih. Mahasiswa dikasih pengumuman, bahwa ada lomba karya tulis ilmiah (misalkan). Dengan hadiah total 20 juta. Angka yang funtastic kan ya buat mahasiswa? Tapi kalau kita lihat tidak semua mahasiswa mau untuk berupaya mengambil kesempatan itu. Ga banyak yang mau mengikuti lomba itu. Tapi kalau tadi syarat lulus, pasti semua mahasiswa mau mengupayakan. Yahhhh itu mah mahasiswa, apa hubungannya sama dosen?

Seperti janji saya di depan, kita akan analogikan kasus tersebut. Kalau kita cari di internet, ada banyak sekali skema hibah penelitian yang memberikan dana penelitian dengan range tertentu. Nominalnya nggak sedikit, sesuai dengan kebutuhan dana penelitian yang juga lumayan. Tapi kondisi di lapangan, nggak semua dosen mau apply proposal dalam skema yang ditawarkan. Nggak semua, bisa jadi lebih banyak dosen yang ikut, bisa jadi lebih sedikit. Itu baru proposal. Penelitian kan juga harus ada outputnya, yang salah satunya adalah publikasi ilmiah. Dari sekian dosen yang penelitian tadi, hanya sebagian saja yang menulis naskah publikasi untuk dipublikasikan melalui jurnal atau prosiding. Alasannya bisa macam-macam. Padahal ada juga penghargaan untuk publikasi ilmiah? Hayooo udah tahu belum ya? Polanya mirip dengan mahasiswa tadi. Meskipun di iming-iming dengan dana yang lumayan, tapi kan nggak semua dosen mau mengajukan proposal penelitian, melakukan penelitian dan mempublikasikan hasilnya. So????? Kembali ke masing-masing orang sih. Jika Anda seorang dosen, saya yakin bahwa Anda adalah dosen yang aktif melaksanakan penelitian dan mempublikasikan karya ilmiah yang Anda buat.

Bagi seorang dosen publikasi ini menjadi suatu kebutuhan sebenarnya, bukan sekedar penggugur kewajiban. Dosen butuh mempublish hasil karyanya untuk bisa mengurus jabatan fungsional, kenaikan pangkat, sertifikasi dosen, dll. Dosen sebagai individu juga butuh untuk publikasi supaya ilmunya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, sehingga ada kepuasan batin ketika naskahnya berhasil dipublikasikan. Kog bilangnya “berhasil dipublikasikan”? Karena belum tentu ketika kita mensubmit naskah kita ke suatu jurnal atau seminar, naskah kita akan diterima. Terkadang kita mengalami penolakan juga. Oops, sedih ga tuh naskah kita ditolak? Makanya kita perlu tau ilmunya. Bagaimana sih cara publikasi ilmiah? Kita bahas di artikel selanjutnya ya. InsyaAllah. Sementara ini dulu ya yang saya tulis di artikel ini. Artikel ini merupakan hasil pelatihan penulisan artikel ilmiah jurnal terakreditasi yang diselenggarakan oleh PPPM UNRIYO di Hotel Sakanti Malioboro, 3 November 2016, dengan pemateri D. Agus Harjito, Ph.D.

Referensi:

Anonim, (2010). Publication Manual of the American Psychological Association, Sixth Edition, WASHINGTON, dc.

Gastel, B. (2013). Writing and Publising Journal Article, Materi pada Authoraid Workshop, www.authoraid.info.

Permendiknas No.17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan     Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Rifai, M., A. (2004). Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; cet. 4.

Setiawan, N. (2011). Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah, Bahan TOT Penulisan Karya Ilmiah, Ditlitabmas, Dikti

Suryono, I.A.S. (2010). Plagiarisme dalam Penulisan Makalah Ilmiah, Naskah tidak diterbitkan.

Posted in Publikasi Tagged with: , , ,

www.calesmart.com
November 7th, 2016 by Sri Lestari

Salah satu bentuk pelanggaran etika dalam penulisan karya ilmiah adalah plagiarsm. Sering kita dengar kata ini, kan ya? Bahkan ada yang mendapatkan sanksi karena ketahuan plagiat. Ada juga yang gagal dalam sertifikasi dosen karena plagiat dalam menuliskan deskripsi diri. Sebenarnya apa sih itu plagiasi? Apa saja sanksi yang akan diberikan bagi yang ketahuan plagiat, dan bagaimana langkah penanggulangan tindak plagiasi ini?

Let’s see more detail!

Peraturan terkait dengan plagiarism ini secara lengkap terdapat dalam Pasal 1, Permendiknas No.17/2010. Yang dimaksud dengan plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Nah apa sih yang dimaksud dengan plagiator, bagaimana pencegahan plagiat, dan bagaimana penanggulangannya?

Plagiator adalah orang perseorang atau kelompok orang pelaku plagiat, masing-masing bertindak untuk diri sendiri, untuk kelompok dan atas nama suatu badan;

Pencegahan plagiat adalah tindakan preventif yang dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi yang bertujuan agar tidak terjadi plagiat di lingkungan perguruan tingginya;

Penanggulangan plagiat adalah tindakan represif yang dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi dengan menjatuhkan sanksi kepada plagiator di lingkungan perguruan tingginya yang bertujuan mengembalikan kredibilitas akademik perguruan tinggi yang bersangkutan.

Dalam Pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa plagiat meliputi tetapi tidak terbatas pada:

Mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;

Mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;

Menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;

Merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;

Menyatakan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Dalam Pasa 1 ayat 2 dijelaskan mengenai sumber yang dimaksud dalam butir-butir ayat 1. Jadi yang dimaksud dengan sumber terdiri atas orang perseorangan atau kelompok orang, masing-masing bertindak untuk diri sendiri atau kelompok atau untuk dan atas nama suatu badan, atau anonim penghasil satu atau lebih karya dan atau karya ilmiah yang dibuat, diterbitkan, dipresentasikan, atau dimuat dalam bentuk tertulis baik cetak maupun elektronik. Btw, kog ada yang di cetak tebal? Ini dijelaskan di ayat selanjutnya.

Dalam Pasal 1, ayat 3 dijelaskan mengenai yang dimaksud dengan dibuat dapat berupa:

  1. Komposisi musik;
  2. Perangkat lunak komputer;
  3. Fotografi;
  4. Lukisan;
  5. Sketsa;
  6. Patung; atau
  7. Karya dan atau karya ilmiah sejenis yang tidak termasuk kategori angka 1 s.d. 6.

Yang dimaksud dengan diterbitkan dapat berupa (Pasal 1 ayat 4):

  1. Buku yang dicetak dan diedarkan oleh penerbit atau perguruan tinggi;
  2. Artikel yang dimuat dalam berkala ilmiah, majalah, atau surat kabar;
  3. Kertas kerja atau makalah profesional dari organisasi tertentu;
  4. Isi laman elektronik; atau
  5. Hasil karya dan/atau karya ilmiah yang tidak termasuk pada angka 1 s.d. 4.

Yang dimaksud dengan dipresentasikan dapat berupa (Pasal 1 ayat 5):

  1. Presentasi di depan khalayak umum atau terbatas;
  2. Presentasi melalui radio/televisi/video/cakram padat/cakram video digital; atau
  3. Bentuk atau cara lain sejenis yang tidak termasuk pada angka 1 dan 2.

Kapan dan dimana sih bisa terjadi plagiat:

Di dalam lingkungan perguruan tinggi, antar karya ilmiah mahasiswa, dosen/peneliti/tenaga kependidikan, dan dosen terhadap mahasiswa atau sebaliknya;

Dari dalam lingkungan perguruan tinggi terhadap karya ilmiah mahasiswa dan/atau dosen/peneliti/tenaga kependidikan dari perguruan tinggi lain, akrya dan/atau karya ilmiah orang perseorangan dan/atau kelompok orang yang bukan dari kalangan perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri;

Di luar perguruan tinggi ketika mahasiswa dan/atau dosen/peneliti/tenaga kependidikan dari perguruan tinggi yang bersangkutan sedang mengerjakan atau menjalankan tugas yang diberikan oleh perguruan tinggi atau pejabat yang berwenang;

Selama mahasiswa menjalani proses pembelajaran;

Sebelum dan setelah dosen mengemban jabatan akademik asisten ahli, lektor, lektor kepala atau guru besar/profesor;

Sebelum dan setelah peneliti/tenaga kependidikan mengemban jabatan fungsional jenjang pertama, muda, madya dan utama.

Sebagaimana kita sebagai dosen, kan juga tidak suka jika mahasiswa kita mencontek jawaban teman ketika mengerjakan soal ujian kita, kan? Jadi mudahnya sih plagiat itu seperti mencontek. Jawaban orang lain ditulis di lembar jawaban sendiri dan diakui sebagai jawaban sendiri. Nah, ada yang samar-samar ini. Bagaimana kalau menconteknya ke diri sendiri? Eh kog bisa? Ini yang dimaksud dengan self-plagiarism.

Self-plagiarism adalah mengakui karya sendiri yang pernah diterbitkan sebagai karyanya yang baru, tanpa mencantumkan sitasinya. Jadi tidak diperbolehkan ada sebagian atau seluruh isi karya ilmiah yang telah diterbitkan sebelumnya, dituliskan kembali oleh penulisnya pada karya ilmiah berikutnya tanpa sistem penulisan rujukan yang baku. Nah supaya tidak melanggar etika dan terjadi self-plagiarism, maka kalau kita mengacu pada karya kita sendiri yang telah diterbitkan sebelumnya, kita harus mencantumkannya di pustaka dan daftar pustaka.

Beberapa kasus plagiasi yang terjadi antara lain sebagai berikut:

1 copy paste kalimat dari karya ilmiah lain tanpa sistem acuan yang baku.

Penambahan teks dari karya ilmiah lain.

Melakukan substitusi kata (sinonim) dari kalimat pada karya ilmiah lain.

Pengubahan kalimat aktif menjadi pasif atau sebaliknya dari karya lain.

Parafrase tanpa acuan, yaitu membuat kalimat lain, tapi idenya sama tanpa sumber acuan.

Kalau yang namanya pelanggaran kan pasti ada sanksi. Sanksi bagi dosen/peneliti/Tendik dapat berupa:

  1. Teguran
  2. Peringatan tertulis
  3. Penundaan pemberian hak
  4. Penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional
  5. Pencabutan hak untuk diusulkan sebagai profesor/jenjang utama bagi yang memenuhi syarat
  6. Pemberhentian dengan hormat dari status dosen/peneliti/tendik
  7. Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai dosen/peneliti/tendik
  8. Pembatalan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi ybs.

Ada juga sanksi tambahan yaitu apabila dosen/peneliti/tendik menyandang sebutan profesor/jenjang utama maka akan diberhentikan dari jabatan profesor/jenjang utama tersebut. Wah, ngeri kan sanksinya? Maka perlua adanya penanggulangan plagiasi seperti yang diatur dalam pasal 10 ayat 4 dan pasal 11 ayat 6.

Pasal 10 ayat (4): apabila berdasarkan persandingan dan kesaksian telah terbukti terjadi plagiat, maka ketua jurusan/departemen/bagian menjatuhkan sanksi kepada mahasiswa sebagai plagiator.

Pasal 11 ayat (6): apabila berdasarkan persandingan dan telah terbukti terjadi plagiat, maka senat akademik/organ lain yang sejenis merekomendasikan sanksi untuk dosen/tenaga peneliti/tenaga kependidikan sebagai plagiator kepada pimpinan/pimpinan perguruan tinggi untuk dilaksanakan.

Mengingat sedemikian pentingnya kita memahami etika dalam penulisan karya ilmiah, maka patut untuk selalu ditegaskan apa saja etika penulisan karya ilmiah, yaitu:

  1. Mengikuti petunjuk bagi penulis (Guideline for author, atau Instruction for author)
  2. Tidak menggunakan data dan hasil olah data tertentu secara berulang tanpa kaidah acuan
  3. Melakukan rujukan yang diambil langsung dari sumber aslinya
  4. Menulis semua sumber acuan di daftar pustaka
  5. Tidak melakukan klaim atas hasil penelitian yang dibiayai pihak lain
  6. Mencantumkan ucapan terima kasih kepada pihak yang berhak
  7. Menggunakan bahasa yang baik.

Ini dulu ya artikel kali ini. Sudah buanyak sekali yang ditulis nih. Karena berhubungan dengan regulasi yang berlaku. Sebagai dosen yang baik tentu kita perlu memperhatikan etika-etika dalam penulisan karya ilmiah supaya tidak terkena cap sebagai plagiat, jadi nggak usah erurusan dengan sanksi-sanksi seperti yang disebutkan itu ya. Mari jadi dosen yang jujur dan menjunjung tinggi etika-etika moral dalam penulisan karya ilmiah.

Artikel ini merupakan hasil pelatihan penulisan artikel ilmiah jurnal terakreditasi yang diselenggarakan oleh PPPM UNRIYO di Hotel Sakanti Malioboro, 3 November 2016, dengan pemateri D. Agus Harjito, Ph.D.

Referensi:

Anonim, (2010). Publication Manual of the American Psychological Association, Sixth Edition, WASHINGTON, dc.

Gastel, B. (2013). Writing and Publising Journal Article, Materi pada Authoraid Workshop, www.authoraid.info.

Permendiknas No.17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan     Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Rifai, M., A. (2004). Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; cet. 4.

Setiawan, N. (2011). Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah, Bahan TOT Penulisan Karya Ilmiah, Ditlitabmas, Dikti

Suryono, I.A.S. (2010). Plagiarisme dalam Penulisan Makalah Ilmiah, Naskah tidak diterbitkan.

Posted in Publikasi Tagged with: , , , ,