www.calesmart.com
www.calesmart.com
www.calesmart.com
www.calesmart.com
Januari 3rd, 2017 by Sri Lestari

MasyaAllah….

Astaghfirullaah ….

Waktu itu memang harta yang sungguh berharga. Waktu tak akan kembali lagi. Dengan tinta apa kita menulis di lembaran-lembaran sejarah kita dalam mengarungi waktu? Saat ini kita begini (lihat kondisi kita saat ini), bagaimana setelah 40 tahun lagi? Bagaimana? Bagaimana?

Baiklah, saya akan menuliskan beberapa “Renungan Bolak-Balik”. Mari kita baca pelan-pelan dan renungkan.

Orangtua dari balita….

Maafkan kami ya, Nak. Kami terpaksa menyerahkan dan membesarkanmu hanya dengan pembantu di rumah saat kamu masih balita. Kami kan sibuk bekerja. Mau bagaimana lagi, daripada tidak ada yang menjaga? Kami hanya ingin memastikan ada yang mengurus kebutuhanmu. Demi kamu sendiri.

 Anak dari lansia …

Maafkan kami ya, Pa-Ma. Kami terpaksa memakai jasa panti jompo untuk menjaga Papa-Mama. Kami kan sibuk bekerja. Mau bagaimana lagi, daripada tidak ada yang menjaga? Kami hanya ingin memastikan ada yang mengurus kebutuhan Papa-Mama. Demi Papa-Mama sendiri.

Anak                : Papa, jam berapa pulang?

Orangtua         : Papa tidak tahu, Nak! Kamu tahu, Papa kan sibuk!

Anak                : Tapi Pa, boleh duduk bentar, ceritakan sebuah kisah untukku!

Orangtua         : Iya, tapi Papa tak bisa. Maafkan Papa ya, Nak. Papa sudah ada janji di kantor.

 

Setelah Papa pensiun …

OrangTua       : nak, kapan kamu pulang?

Anak                : Aku tidak tahu, Pa! Papa tahu, kerjaanku begitu menyita waktu.

OrangTua         : Nak, kamu mau kemana? Boleh duduk bicara sebentar sama Papa?

Anak                : Iya, tapi aku tak bisa. Maafkan aku ya, Pa. Aku sudah ada janji dengan kawan.

 

Orangtua saat kelahiran anak …

Sungguh perasaan ini haru melihat kelahiran anak kami. Oh ya Ustadz, Ustadzah, apa yang harus kami lakukan setelah anak kami lahir?

Boleh bantu doakan? Boleh bantu guntingkan rambutnya?

Boleh bantu aqiqahkan? Sekalian kalau sudah tumbuh besar nanti tolong ajarkan Al-Qur’an! Karena kami kurang mengerti, kami belum mempersiapkan ilmu mendidik anak kami. Insya Allah, bayaran bisa di belakang!

 

Anak saat kematian orangtua …

Sungguh perasaan ini sedih ditinggalkan orangtua kami.

Oh ya, Ustadz, ustadzah, boleh bantu kami mandikan orangtua kami? Kafankan orangtua kami? Shalatkan orangtua kami? Kuburkan jenazah orangtua kami? Sekalian nanti kalau sudah selesai, tolong tahlilkan orangtua kami, ya! Karena kami kurang mengerti, kami belum siap ditinggalkan orang tua kami. Insya Allah, bayaran bisa di belakang!

 

Anak                : Ini warna apa, Ma?

Orangtua         : Putih, sayang …

Anak                : Warna apa?

Orangtua         : Putih …

Anak                : Warna apa?

Orangtua         : Pu … tih …

Anak                : Apa?

Orangtua         : Putih!

Anak                : Apa?

Orangtua          : Aduh … putih, putih, putih. Jangan Tanya berulang-ulang begitu. Kamu pura-pura nggak dengar ya? Jangan bua Mama kesel dong!

 

45 tahun kemudian …

Lansia             : ini warna apa, Nak?

Anak                : Putih, Mama …

Lansia             : Warna apa?

Anak                : Putih …

Lansia             : Warna apa?

Anak                : Pu … tih …

Lansia             : Apa?

Anak                : Putih!

Lansia             : Apa?

Anak                : Aduh …., putih, putih, putih. Jangan Tanya berulang-ulang begitu. Mama ini pura-pura nggak dengar apa? Jangan buat aku kesel, dong!

 

MasyaAllah….

Seolah menembus lorong waktu, melongok masa depan. Naudzubillahi min dzalik…

Kembali lagi lihat kondisi kita saat ini. Bagaimana besok, 40 tahun lagi, saat kita sudah pensiun, saat anak kita tumbuh menjadi remaja, dewasa. Bagaimana saat kita sudah lanjut usia, bagaimana jika kita sudah mati? Akankah anak-anak kita yang akan mengurus kita, bahkan jenazah kita, memandikan, hingga mendo’akan, dan teruuuus mendo’akan kita?

Mari kita benahi diri kita. Benahi kebersamaan kita dengan anak-anak kita!

 Semoga kita dimampukan oleh Allah untuk menjadi orangtua yang shalih dan shalihah, dan dimampukan untuk mendidik dan mengasuh anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Aamiin…

Semoga tulusan ini bermanfaat. Mohon maaf apabila kata-kata yang tertulis disini membekas di hati pembaca sekalian.

 

Reference: Bukhari, I.B.I, 2013. Yuk, Jadi Orang tua Salih! Sebelum meminta anak shalih. PT Mizan Pustaka, Bandung.                   

Posted in Artikel Tagged with: , , , , ,

Desember 20th, 2016 by Sri Lestari

Selamat pagi, udah lama saya gak posting nich, maaf baru sibuk merawat anak dan aktifitas jualan di shop.calesmart.com. OK, tanpa panjang lebar, pada kali ini saya akan menjelaskan tentang permasalahan umum tentang belajar. Permasalahan umum yang terjadi seputar belajar berakar pada hal-hal berikut ini:

  1. Pembatasan atau penyempitan makna belajar oleh orang tua
  • Belajar secara umum berarti anak harus duduk tenang menghadapi meja belajar dengan buku pelajaran di depan mata.
  • Belajar berarti mengerjakan PR atau tugas-tugas dari sekolah.
  • Belajar membaca dini berarti belajar menghafal huruf dan mengeja kata.
  • Belajar berhitung dini berarti menghafal angka, penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan berlatih mengerjakan soal sebanyak mungkin.
  • Belajar menulis berarti anak berlatih menulis huruf-huruf dan suku kata secara berulang-ulang.
  1. Pembatasan pencapaian anak yang diakui orangtua
  • Semakin dini anak bisa membaca, menulis, dan berhitung, semakin baik.
  • Anak mampu mnghafal fakta-fakta.
  • Anak mendapatkan nilai tinggi untuk ulangan-ulangan sekolah.
  • Anak mendapatkan ranking tinggi di sekolah.
  • Anak menjadi juara dalam lomba-lomba di sekolah.
  • Anak bisa melakukan hal-hal yang orangtua tidak mampu pada waktu kecil dulu
  • Anak berhasil masuk sekolah favorit.
  1. Upaya-upaya Anda agar anak mewujudkan harapan Anda
  • Mengurangi waktu bermain.
  • Menyekolahkan lebih awal, paling awal.
  • Mengikutkannya pada aneka les atau kursus.
  • Mengikutkannya pada lomba-lomba.
  • Menekankan pentingnya nilai, rangking, dan kemenangan.
  • Menambah jam belajar ketika terjadi penurunan prestasi.
  • Mengikutkannya dalam bimbingan belajar.
  • Mematok jalur khusus untuk pendidikan anak; dari SD hingga perguruan tinggi favorit.
  • Menggunakan cara-cara kontraproduktif ketika anak tampak malas: menasihati, menyuruh, menceramahi, atau mengomel.

 Bolehkah saya minta Anda memperhatikan butir demi butir diatas, dan menjawab butir mana yang sesuai dengan Anda saat ini?

sekian artikel kali ini, semoga bermanfaat.

Posted in Artikel Tagged with: , , ,

Desember 8th, 2016 by Sri Lestari

Rasanya agak aneh membaca judulnya. Bukankah bersama anak itu pasti berada di dekat anak? Lalu apa masalahnya?

Pada kenyataannya, banyak orangtua yang berada di dekat anak namun asik main HP, asik melihat sinetron atau telenovela, asik dengan pekerjaannya di depan computer, dll. Apakah itu salah? Apakah ada pengaruhnya untuk anak? Apakah ….? ….? ….? Jika dihadapkan dengan kenyataan sehari-hari, pasti akan banyak pertanyaan yang muncul oleh masing-masing ortu.

Yuk, kita sama-sama belajar bagaimana sebenarnya ‘bersama anak’ itu.

  1. Sesibuk apapun Anda, sediakan waktu bersama anak. Minimal setengah jam sehari.
  2. Bersama anak tidak sama dengan di dekat anak. Banyak orangtua hadir 24 jam sehari di dekat anak, tapi tidak bersama anak barang 5 menit pun. Bersama anak berarti Anda benar-benar berdua dengan sang anak, tidak “bertiga dengan HP, televise, atau kompor; tidak berempat dengn computer dan pekerjaan. Bersama anak berarti berbicara dengan anak, bukan berbicara kepada anak. Anda pun mendengarkan anak berbicara. Bersamanya, Anda juga bisa tersenyum, tertawa, menangis, mewarnai, menempel, bercerita, mengacak-acak atau beres-beres kamar, dll.
  3. Jika Anda banyak meninggalkan anak untuk bekerja, jangan pernah “menebus dosa” dengan menawarkan banyak hal (permainan, kue, atau hadiah) kepada anak lebih dari yang dia butuhkan. Anak Anda mungkin tidak membutuhkannya. Hadiah berlebihan dan memenuhi segala permintaannya tidak produktif untuk masa depan anak.
  4. Sebelum tidur, tatap matanya, cium keningnya, dan doakan dia dengan penuh kekhusyukan. Jika memungkinkan, biarkan dia mendengarkan apa yang kita do’akan.
  5. Mulailah setiap pagi dengan kemesraan bersama anak Anda. Buat dia sampai tertawa jika Anda bertemu dengannya. Ketika Anda berinteraksi dengan anak pada saat lelah sekalipun, sungguh Anda akan merasakan kebahagiaan sejati.
  6. Bekerjasama dengan pasangan, tanamkan nilai-nilai positif kepada anak melalui cerita. Bergantian antara Ayah dan Bunda.
  7. Sentuhan Anda menjadi obat mujarab bagi anak. Jangan pelit menyentuh mereka. Tepukan ringan, usapan di kepala, rangkulan tiba-tiba, hingga pelukan erat dapat menenangkan mereka. Ayah-Bunda bisa melakukan pelukan sandwich atau burger terhadap anak. Dia dipeluk kedua orang tuanya sekaligus. Bahagia rasanya. Jangan hanya menunggu momen perdamaian setelah ada masalah. Dan sudah seharusnya pelukan dan sentuhan ini diberikan gratis.
  8. Ketika listrik mati, suasana redup dan syahdu yang dihasilkan cahaya lilin dapat membantu Anda menjangkau anak-anak yang kurang sentuhan. Adakalanya, kesibukan orangtua dan remaja menjauhkan satu sama lain secara fisik. Ajaklah semua anggota keluarga berkumpul di suatu tempat. Peluk mereka, buat permainan yang mendorong kedekatan fisik, atau gunakan cerita-cerita sedikit mencekam yang disesuaikan dengan usia anak terkecil. Tentunya bukan cerita horror menakutkan. Jika momen tidak terencana ini berhasil dan membuat anak-anak ketagihan, Anda bisa mengatur dengan sengaja kegiatan dalam keremangan ini.

Bagaimana setelah belajar dari poin-poin diatas? Ada yang tertohok? Iya, termasuk saya sebagai ibu bekerja. Ada yang baru tau? Iya, termasuk saya dimana anak saya masih bayi sehingga saya belum menyadari pentingnya ke’bersamaan’ bersama anak itu ketika dia sudah remaja nanti. Bagaimana perasaan Anda?

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Ayah-Bunda sekalian. Saya pun mengambil pelajaran yang berharga dari sini. Yuk, jadi lebih baik 😉

Reference: Bukhari, I.B.I, 2013. Yuk, Jadi Orang tua Salih! Sebelum meminta anak shalih. PT Mizan Pustaka, Bandung.

Posted in Artikel, catatan Tagged with: , , , ,