www.calesmart.com
www.calesmart.com
www.calesmart.com
www.calesmart.com

Inspirasi dari Penghafal Al-Qur’an di usia Balita

www. calesmart.com

Mujtaba Karshenash adalah salah satu anak yang mampu menghafal al-Qur’an di usia balita. Pada artikel sebelumnya, kita sudah mengnal Abdurrahman Farih (hafal Al Quran di usia 3 tahun). Mujtaba lahir 28 Juli 1996 di kota kecil Darab, Provinsi Fars, sekitar 444 mil bagian selatan Qom. Ayahnya bernama Ali Asghardan ibunya Zahra Bigum, keduanya sama-sama berprofesi sebagai guru. Mujtaba dalam keluarga yang mencitai ilmu dan pendidikan. Sehingga ia pun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan gemar membaca. Minatnya untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an bermula dari seringnya dia menonton musabaqoh hafizh Al-Qur’an yang diadakan di daerahnya. Ia sangat tertarik melihat para hafis melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tanpa harus membaca mushaf. Dari situlah, ia bertekad ingin bisa seperti mereka.

Hingga pada sebuah majelis al-Qur’an pada malam Milad Imam Hasan Mujtaba, ia bertemu dengan Ayatullah Hadi Shirazi. Ia pun menyampaikan tekadnya untuk bisa menghafal Al-Qur’an kepada beliau. Kemudian, ia disarankan oleh beliau untuk belajar di Hauzah Ilmiyyah di Qom, karena kota tersebut sangat kondusif bagi para pelajar Al-Qur’an. Walaupun bukan guru agama, kedua orang tuanya sangat mendukung tekad Mujtaba. Keluarga Mujtaba akhirnya memutuskan pindah ke Qom. Di sana, ayah Mujtaba tetap bekerja sebagai guru, namun ibu Mujtaba harus rela meninggalkan pekerjaannya untuk sepenuhnya mendampingi anaknya dalam meraih cita-citanya menjadi hafizh Al-Qur’an.

Di kota Qom, Mujtaba belajar di Jamiatul Qur’an dan mengikuti program khusus satu tahun. Berkat tekad yang kuat dan dukungan dari kedua orang tuanya, dalam setahun Mujtaba berhasil menghafal keseluruhan ayat Al-Qur’an. Tidak hanya itu, Mujtaba pun fasih menyebutkan letak ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur’an, nama surat, nomor ayat, dan nomor halamannya. Bahkan, ia juga mampu menerjemahkannya ke bahasa ibu (Persia).

Agar bisa total berkonsentrasi dalam program menghafal, dalam setahun itu Mujtaba rela meninggalkan sekolahnya. Dan benar saja, dalam setahun ia berhasil menghafal hampir semua ayat Al-Qur’an. Kemudian, ia melanjutkan menghafal sendirian sambil kembali ke sekolah. Mujtaba sempat mengikuti ujian akhir SMP, meski hanya mempunyai waktu belajar dua pekan untuk mengejar ketertinggalannya selama ini. Setelah itu, sambil memanfaatkan liburan musim panas untuk menanti tahun ajaran baru, Mujtaba melanjutkan hafalan dan berhasil menghafalkan keseluruhan Al-Qur’an pada Ramadhan 1431 H (2010 M).

Mujtaba melanjutkan belajar di Madrasah Rusyd, sekolah setingkat SMA, namun khusus mempelajari ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan Ayatullah Mizbah Yazdi. Menurut Mujtaba, berkaitan dengan cara dan metode menghafal Al-Qur’an, antara satu orang dengan lainnya mempunyai cara masing-masing. Ada yang sekali membaca langsung hafal, namun ada pula yang berkali-kali. Sedangkan, dirinya sendiri membutuhkan 5-6 kali membaca baru bisa menghafalnya. Adapu metode yang digunakan dalam program setahun menghafal al-Qur’an adalah dengan metode klasik, sebagaimana diketahui banyak orang, yaitu membaca secara berulang-ulang beberapa baris ayat al-Qur’an, kemudian menghafalnya, dan baru pindah ke ayat selanjutnya setelah ayat tersebut telah benar-benar dihafal.

Sumber: Zusnani, I. 2013. Masih Bocah tapi Hafal dan Paham Al-Qur’an. Yogyakarta: Kamea Pustaka.

November 12th, 2016 by